Ini pengalaman yang sangat menarik ” aku di Perkosa menantuku”. Berdiri
di depan pintu rumahku, menantu permpuanku, Mirna, mendekatkan kepalanya
ke arahku dan berbisik, “Kalau Ayah mau… aku nggak menolak.” Dia
memberiku sebuah kecupan ringan di pipi, dan berbalik lalu berjalan
menyusul suami dan anaknya yang sudah lebih dulu menuju ke mobil. Yoyok
menempatkan bayinya pada dudukan bayi itu, dan seperti biasanya, dia
terlalu jauh untuk mendengar apa yang dibisikkan istrinya tercintanya
terhadap Ayah kandungnya.
Mirna melenggang di jalan kecil depan rumah dengan riangnya bagai
seorang gadis remaja yang menggoda. Yoyok tak mengetahui ini juga, ini
semua dilakukan istrinya hanya untukku…
Mungkin kalian mengira aku terlalu mengada-ada soal ini, tapi
kenyataannya apa yang Mirna lakukan ini tidak hanya sekali ini saja. Dan
sejak aku tak terlalu terkejut lagi, aku merasa ada sesuatu yang hilang
jika dia tidak melakukannya saat berkunjung ke rumahku. Aku merasa ada
getaran pada penisku, dan sebagai seorang lalaki biasa yang masih
normal, pikiran ‘andaikan…A?a,?a”? yang wajar menurutku selalu hadir di
benakku.
Mirna adalah seorang wanita yang bertubuh mungil, tapi meskipun
begitu ukuran tubuhnya tersebut tak mampu menutupi daya tarik
seksualnya. Sosoknya terlihat tepat dalam ukurannya sendiri. Dia
mempunyai rambut hitam pekat yang dipotong sebahu, dia sering
mengikatnya dengan bandana.
Dia memiliki energi dan keuletan yang sepengetahuanku tak dimiliki
orang lain. Sebuah keindahan nan elok kalau ingin mendiskripsikannya.
Dia selalu sibuk, selalu terlihat seakan dikejar waktu tapi tetap selalu
terlihat manis. Dia masuk dalam kehidupan keluarga kami sejak dua tahun
lalu, tapi dengan cepat sudah terlihat sebagai anggota keluarga kami
sekian lamanya.
Yoyok bertemu dengannya saat masih kuliah di tahun pertama. Mirna baru
saja lulus SMU, mendaftar di kampus yang sama dan ikut kegiatan
orientasi mahasiswa baru. Kebetulan Yoyok yang bertugas sebagai pengawas
dalam kelompoknya Mirna. Seperti yang sering mereka bilang, cinta pada
pandangan pertama.
Mereka menikah di usia yang terbilang muda, Yoyok 23 tahun dan Mirna
19 tahun. Setahun kemudian bayi pertama mereka lahir. Aku ingat waktu
itu kebahagian terasa sangat menyelimuti keluarga kami. Suasana saat itu
semakin membuat kami dekat. Mirna mempunyai selera humor yang sangat
bagus, selalu tersenyum riang, dan juga menyukai bola. Dia sering
terlihat bercanda dengan Yoyok, mereka benar-benar pasangan serasi. Dia
selalu memberi semangat pada Yoyok yang memang memerlukan hal itu.
Yoyok dan Mirna sering berkunjung kemari, membawa serta bayi meraka.
Mereka telah mengontrak rumah sendiri, meskipun tak terlalu besar.
Aku pikir mereka merasa kalau aku membutuhkan seorang teman, karena
aku seorang lelaki tua yang akan merasa kesepian jika mereka tak sering
berkunjung. Disamping itu, aku memang sendirian di rumah tuaku yang
besar, dan aku yakin mereka suka bila berada disini, dibandingkan rumah
kontrakannya yang sempit.
Ibunya Yoyok telah meninggal karena kanker sebelum Mirna masuk dalam
kehidupan kami. Sebenarnya, tanpa mereka, aku benar-benar akan jadi
orang tua yang kesepian. Aku masih sangat merindukan isteriku, dan bila
aku terlalu meratapi itu, aku pikir, kesepian itu akan memakanku. Tapi
pekerjaanku di perkebunan serta kunjungan mereka, telah menyibukkanku.
Terlalu sibuk untuk sekedar patah hati, dan terlalu sibuk untuk mencari
wanita untuk mengisi sisa hidupku lagi. Aku tak terlalu memusingkan
kerinduanku pada sosok wanita. Tak terlalu.
Bayi mereka lahir, dan menjadi penerus keturunan keluarga kami. Kami
sangat menyayanginya. Dan kehidupan terus berjalan, Yoyok melanjutkan
pendidikannya untuk gelar MBA, dan Mirna bekerja sebagai Teller di
sebuah Bank swasta.
Kunjungan mereka padaku tak berubah sedikitpun, cuma bedanya sekarang
mereka sering membawa beberapa bingkisan juga. Tentu saja, diasamping
itu juga perlengkapan bayi, beberapa popok, mainan dan makanan bayi.
Beberapa bulan lalu Mirna dan bayi mereka datang saat Yoyok masih di
kelasnya. Dia duduk disana menggendong bayinya di lengannya. Dia sedang
berusaha untuk menidurkan bayinya. Aku tak tahu caranya, tapi
pemandangan itu entah bagaimana telah menggelitik kehidupan seksualku.
“Ngomong-omong… kapan Ayah akan segera menikah lagi?” dia bertanya dengan getaran pada suaranya.
“Aku tak tahu. Aku kelihatannya belum terlalu membutuhkan kehadiran
seorang wanita dalam hidupku. Lagipula, aku telah memiliki kalian yang
menemaniku.”
“Aku tidak bicara tentang teman. Aku sedang bicara soal seks.” matanya mengedip kearahku saat dia bicara.
“Apa?”
“Ayah tahu, seks.” dia hampir saja tertawa sekarang. “Ketika seorang
lelaki dan wanita sudah telanjang dan memainkan bagiannya masin-masing?”
“Ya, aku tahu seks,” aku membela diri. “Lagipula kamu pikir darimana suamimu berasal?”
“Yah, aku hanya khawatir kalau Ayah sudah melupakannya. Maksudku, apa Ayah tak merindukan hal itu?”
“Terima kasih atas perhatianmu, tapi aku sudah terlalu tua untuk hal seperti itu.”
“Hei! Lelaki tak pernah bosan dengan hal itu. Setidaknya begitulah dengan putramu.”
“Anakku jauh lebih muda dariku, dan dia mempunyai seorang istri yang cantik.”
“Terima kasih, tapi aku masih tetap menganggap Ayah membutuhkannya,” dia menekankan suaranya pada kata ‘Ayah’.
“Terima kasih sudah ngobrol,” kataku, masih terdengar sengit. Ada
sedikit jeda pada perbincangan itu, saat dia masih menekan kehidupan
seksualku. Aku pikir bukanlah urusannya untuk mencampuri hal itu
meskipun kadang aku membayangkannya juga.
Dia pandang bayinya, yang akhirnya tertidur, dan memberinya sebuah
senyuman rahasia, sepertinya mereka berdua akan berbagi sebuah rahasia
besar. Masih memandangnya, tapi dia berbicara padaku, “Kalau Ayah mau…
aku nggak menolak.”
“Apa!!!?”
“Aku serius.” Mirna menatapku. “Kalau Ayah menginginkan aku… Ayah
adalah seorang lelaki yang tampan. Ayah membutuhkan seks. Disamping itu,
aku bersedia, kan?”
Aku pikir dia sedang bercanda. Tapi wanita yang menggoda ini tidak
sedang main-main. Tapi tetap saja tak mungkin aku melakukannya dengan
istri dari anak kandungku sendiri. “Terima kasih atas tawarannya, tapi
kupikir aku akan menolak tawaranmu.” suaraku terdengar penuh dengan
keraguan saat mengucapkannya.
Mirna mencibirkan bibir bawahnya, aku tak bisa menduga apa yang
sedang dirasakannya. Dia tetap terlihat menawan, dan aku merasa Yoyok
sangat beruntung.
Dia bicara dengan pelan. “Dengar, Yoyok tak akan tahu. Maksudku, aku
tak akan mengatakannya kalau Ayah juga menjaga rahasia. Dan bukan
berarti aku menawarkan diriku pada setiap lelaki yang kutemui. Aku bukan
wanita seperti itu dan aku bisa mengatur agar sering berkunjung kemari.
Dan aku tahu Ayah menganggapku cukup menarik kan, sebab aku sering
melihat Ayah memandangi pantatku.”
Aku tak mungkin menyangkalnya. Mirna mungkin tak terlalu tinggi, tapi
dia memiliki bongkahan pantat yang indah diatas kedua kakinya. “Ya,
kamu memang memiliki pantat yang indah. Tapi itu bukan berarti kalau aku
ingin berselingkuh dengan menantuku sendiri.”
Dia berhenti sejenak, tapi Mirna kelihatannya tak akan menyerah
begitu saja. “Yah, tapi jangan lupa. “Kalau Ayah mau… aku nggak
menolak.”
Dan itulah awal dari semua ini.
Seiring minggu yang berlalu, entah di sengaja atau tidak, dia seakan
selalu berusaha untuk menggodaku, membuat puting sususnya menyentuh
dadaku saat dia menyerahkan bayinya padaku untuk ku gendong. Atau dia
masukkan jarinya di mulutnya saat Yoyok tak melihat, dan menghisapnya
dengan pandangan penuh kenikmatan ke arahku.
Suatu waktu dia duduk di lantai dengan kaki menyilang dan sedang
bermain dengan bayinya, dia memandangku tepat di mata, tersenyum, dan
menyentuh pangkal paha di balik celana jeansnya. Aku tak akan melupakan
hal itu. Dan dia entah bagaimana selalu menemukan cara untuk berduaan
denganku walaupun sesaat, dan dia memberiku ciuman singkat yang penuh
gairah, tepat di bibir. Itu semua dilakukannya berulang-ulang.
“Kalau Ayah mau… aku nggak menolak,” dia berbisik di belakang Yoyok saat suaminya itu sedang memasukkan DVD pada player.
“Kalau Ayah mau… aku nggak menolak,” dia berbisik saat mendekat untuk menyodorkan minuman padaku.
“Kalau Ayah mau… aku nggak menolak,” dia membisikkannya setiap kali dia berpamitan.
Dan sekarang, aku bukanlah terbuat dari batu, dan aku tak akan bilang
tingkah lakunya itu tidak memberikan pengaruh terhadapku. Mirna sangat
manis dan mungil, dan meskipun setelah melahirkan bayi pertamanya tak
membuat tubuhnya berubah seperti kebanyakan wanita. Dia tetap langsing,
dan manis, dan dia menawarkan dirinya untuk kumiliki. Tapi aku tak akan
memulai langkah pertama untuk tidur dengan menantuku sendiri, tak
perduli semudah apapun itu.
Setidaknya itulah yang tetap kukatakan pada diriku sendiri.
Beberapa minggu yang lalu kami semua berkumpul di rumahku untuk
melihat pertandingan bola. Aku mengambil beberapa kaleng minuman dan
sedang berada di dapur untuk menyiapkan beberapa makanan ringan saat
Mirna muncul dari balik pintu itu.
“Hai!” sapanya, membuka pintu dan masuk ke dapur. “Ayah sudah siap untuk pertandingan nanti?”
“Hampir. Aku sedang membuat makanan untuk keluarga kecil kita, dan
aku punya beberapa wortel untuk cucuku. Aku pikir dia akan suka dan
warnanya sama dengan kesebelasan yang akan bertanding nanti, kan?
Mirna tertawa dan berkata. “Aku rasa dia tak akan perduli. Disamping
itu bukankah ada hal lain yang lebih baik yang bisa Ayah kerjakan
untukku?”
“Jangan menggodaku. Aku seorang kakek dan aku akan lakukan apa yang
menurutku akan disukai oleh cucuku.” aku memandangnya. Mirna berdiri di
sana memakai bandana merah kesukaannya diatas rambutnya yang sebahu. Dia
memakai kaos yang sedikit ketat yang bahkan tak sampai ke pinggangnya,
dan pusarnya mengedip padaku dibalik kaosnya. Kancing jeansnya
membuatnya kelihatan seperti anak-anak diera bunga tahun 60an, dan dia
memakai sandal dengan bagian bawah yang tebal yang menjadikannya lebih
tinggi sepuluh centi.
Kuku kakinya dicat merah senada dengan lipstiknya, dan itu menjadi
terlihat dengan sangat menarik dibalik denimnya. Dia selalu suka
mengenakan perhiasan, dan dia memakainya pada leher, telinga,
pergelangan tangan dan bahkan di jari kakinya. Dia membuatku
berandai-andai jika saja aku masih remaja, jadi aku dapat memacari gadis
sepertinya. Mungkin suatu waktu nanti aku harus pergi ke kampus dan
mencari gadis-gadis. Khayalanku terhenti saat menyadari kalau Yoyok dan
bayinya tidak mengikutinya masuk.
“Mana anggota keluargamu yang lainnya?” aku bertanya ingin tahu.
“Mereka akan segera datang. Yoyok pergi ke toko perkakas untuk
membeli peralatan mesin cuci yang rusak. Dia ingin membawa serta
anaknya. ‘Perjalanan ke toko perkakas yang pertama bersama Ayah’ kurasa
yang dikatakannya padaku.” dia tersenyum.
“Apa Ayah mempermasalahkan saat pertama kalinya mengajak Yoyok ke toko perkakas?”
“Aku tak ingat,” aku berkata dengan garing.
Mirna mendekat padaku, dan menaruh tangannya melingkari leherku. “Ini kesempatan Ayah. Kalau Ayah mau… aku nggak menolak.”
Mirna memandangku tepat di mata dan mengangkat tubuhnya dan menciumku
lama dan liar. Aku ingin mendorongnya, tapi aku tak tahu dimana aku
harus menaruh tanganku. Aku tak mau menyentuh pinggang telanjang itu,
dan jika aku menaruh tanganku di dadanya aku pasti akan menyentuh puting
susunya. Saat aku masih terkejut dan bingung, aku temukan diriku
menikmati ciumannya. Ini sudah terlalu lama, dan aku merasa telah lupa
akan rasa lapar yang mulai tumbuh dalam diriku.
Akhirnya aku menghentikan ciuman itu dan mundur dan melepaskan
tangannya dari leherku. “Kita tak bisa melakukannya.” aku mencoba
menyampaikannya dengan lembut, tapi aku takut itu kedengaran seperti
rajukan.
“Ya kita bisa.” Mirna kembali menaruh lengannya di leherku dan
mendorong bibirku ke arahnya. Ada gairah yang lebih lagi dalam ciuman
kali ini, dan akhirnya penerimaanku. Kali ini saat kami berhenti, ada
sedikit kekurangan udara diantara kami berdua, dan aku semakin merasa
sedikit bimbang.
Mirna memandangku dengan binar di matanya dan sebuah senyuman di
bibirnya. “Ayah menginginkanku. Aku bisa merasakannya. Ayah tak
mendapatkan wanita setahun belakangan ini, dan Ayah tak mempunyai tempat
untuk melampiaskannya. Dan aku menginginkan Ayah. Jadi tunggu apa
lagi…”
Pada sisi ini aku tak mampu berkomentar. Aku menginginkannya. Tapi
aku tak dapat meniduri menantuku, bisakah aku? Tapi aku menginginkan
dia. Aku merasa pertahananku melemah, dan saat Mirna menciumku lagi, aku
jadi sedikit terkejut saat menyadari diriku membalas ciumannya dengan
rakus.
“Mmmmm. Itu lebih baik,” katanya saat kami berhenti untuk mengambil
nafas. Mirna menarik tangannya dari leherku dan mulai melepaskan kancing
celanaku saat menciumku kembali lalu dia mundur. Jadi dia bisa melihat
saat dia melepaskan kancing jeansku, menurunkan resletingnya, dan
merogoh ke dalam untuk mengeluarkan barangku. Aku terkejut saat terlihat
jadi tampak lebih besar di genggaman tangannya yang kecil. Setahun
sudah tak disentuh oleh wanita , dan bereaksi dengan cepat, menjadi
keras dan cairan pre-cumnya keluar saat dia mengocoknya dengan lembut.
Mirna mundur dan duduk. Saat kepalanya turun, dia menempatkan
bibirnya di pangkal penisku yang basah. “Aku rasa aku menyukai
bentuknya,” bisiknya sambil menatap mataku. Lalu kemudian dia membuka
mulutnya dan dengan perlahan memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Ke
dalam dan lebih dalam lagi penisku masuk dalam mulutnya yang lembut,
hangat dan basah, dan aku merasa berada di dalam vagina yang basah dan
kenyal saat lidahnya menari di penisku. Akhirnya aku merasa telah berada
sedalam yang ku mampu, bibirnya menyentuh rambut kemaluanku dan kepala
penisku berada entah di mana jauh di tenggorokannya. Penisku tanpa
terasa mengejang, dan pinggangku bergerak berlawanan arah dengannya, dan
bersiap untuk menyetubuhi wajahnya.
Tapi Mirna perlahan menjauhkan mulutnya dariku, menimbulkan suara
seperti sedang mengemut permen. Saat dia bangkit untuk menciumku lagi,
aku mengarahkan tanganku diantara pahanya. Aku gosok jeansnya dan dia
menggeliat karenanya. “Mmmm, itu pasti nikmat,” katanya. “Tapi biar aku
membuatnya jadi lebih mudah.”
Mirna melepaskan kancing celananya dan menurunkan resletingnya,
memperlihatkan celana dalam katunnya yang bergambar beruang kecil.
Diturunkannya celananya dan melepaskannya dari tubuhnya. Kami melihat ke
bawah pada area gelap dibawah sana dimana kewanitaannya bersembunyi,
dan kemudian aku sentuh perutnya yang kencang dan terus menurunkan
celana dalamnya.
Mirna mengerang dalam kenikmatan saat tanganku mencapai sasarannya
dibalik celana dalamnya. Vaginanya serasa selembut pantat bayi, dan aku
sadar kalau dia pasti telah mencukurnya sebelum kemari. Terasa basah dan
licin oleh cairan kewanitaannya dan membuatku kagum karena itu tak
menimbulkan bekas basah di luar jeansnya. Saat tanganku menyelinap
dibalik bibir vaginanya dan menyentuh klitorisnya yang mengeras, dia
memejamkan matanya dan menekan berlawanan arah dengan jariku.
Mirna menaruh salah satu tangannya di leherku dan mendorong kami
untuk sebuah ciuman intensif berikutnya sedangkan tangannya yang lain
mengocok penisku dan tanganku terus bergerak dalam lubang basahnya. Saat
kami berhenti untuk bernafas, Mirna mundur dan mengatakan sesuatu yang
mengejutkan, “Yoyok datang.”
Aku segera melepasnya dan menuju jendela. Ya, mobil Yoyok terlihat di
jalan sedang menuju kemari. Mirna pasti melihatnya dari balik bahuku
saat kami saling mencumbui leher. Tiba-tiba perasaan bersalah datang
menerkam karena hampir saja ketahuan. Aku tak percaya apa yang hampir
saja kami lakukan. Dengan tergesa-gesa aku kenakan kemabali celanaku,
tapi Mirna menghentikanku dan menangkap tanganku dan melanjutkan
kocokannya.
“Hei, tidak boleh. Tak semudah itu Ayah boleh mengakhirinya. Aku telah menunggu terlalu lama untuk ini.”
“Tapi Yoyok hampir datang! Dia akan melihat kita!”
Mirna mengeluarkan penisku dan berjalan ke arah meja dapur. “Ini
perjanjiannya,” katanya. “Aku tak akan mengadu pada Yoyok tentang apa
yang baru saja kita lakukan kalau Ayah dapat dapat mengeluarkan seluruh
sperma Ayah dalam vaginaku sebelum dia sampai kemari.” Sambil berkata
begitu, dia menurunkan celananya hingga lutut dan membungkuk di meja
itu.
“Dia segera datang!” hampir saja aku teriak.
“Tidak.” Mirna membentangkan kakinya sejauh celananya memungkinkan
untuk itu dan dia memandangku lewat bahunya. “Dia harus menggendong bayi
dan mengeluarkan semua barangnya. Biasanya dia memerlukan beberapa
menit. Sekarang kemarilah dan setubuhi aku.”
Mirna telah telanjang dari pinggang hingga kaki, dan dia memohon
padaku agar segera memasukkan diriku dalam tubuhnya. Aku menatap dua
lubang yang mengundang itu. Pantatnya begitu kencang dan aku tak terusik
saat melihat lubang anusnya yang berkerut kemerahan, dan di bawahnya,
bibir vaginanya yang merah, terlihat mengkilap basah. Kakinya tak
sejenjang model, tapi lebih kecil dan terasa pas, dan aku membayangkan
bercinta dengannya beberapa jam.
Tangannya bergerak kebelakang diantara pahanya dan menempatkan
tangannya pada vaginanya. Dengan dua jarinya dilebarkannya bibir
vaginanya hingga terbuka, dan aku dapat melihat lubang merah mudanya
mengundang penisku agar segera masuk. “Ayo,” katanya. “Ambil aku.”
Aku tak tahu apa dia sedang bercanda saat mengatakannya. Yoyok atau
bukan, rangsangan ini lebih dari cukup untuk mereguk birahinya. Aku
melangkah ke belakang menantuku dan menempatkan penisku di
kewanitaannya. Saat aku mendorong penisku melewati lubang surganya yang
sempit, aku dapat merasakan jari Mirna menahan bibir madunya agar tetap
terbuka, dan dia melenguh saat aku memegang pinggangnya dan memasukkan
diriku padanya.
Mirna telah sangat basah hingga aku dengan mudah melewati vagina
mudanya yang sempit. Aku mulai mengayunkan barangku di dalamnya,
sebagian didorong oleh nafsu akan tubuh menggairahkannya dan sebagian
oleh rasa takut jika Yoyok memergoki kami. Mirna mengerang, dan aku
dapat merasakan jarinya menggosok kelentit dan bibir vaginanya sendiri.
Nafasnya mulai tersengal, dan setelah beberapa goyangan dariku, dia
segera orgasme. Suara rengekan pelan keluar dari bibirnya saat dia
mencengkeram pinggiran meja dengan kuat, dan letupan orgasmenya
menggoncang kami berdua saat aku menghentaknya.
Itu cukup untuk menghantarku. Aku tak berhubungan dengan wanita dalam
setahun ini, dan aku belum pernah mendapatkan yang sepanas Mirna. Aku
menahan nafas dan mendorong seluruh kelaki-lakianku ke dalam dirinya.
Kami mematung, dan kemudian spermaku menyemprot dengan hebat jauh di
dalam surganya. Serasa aku telah mengguyurnya dengan sperma yang panas
dan berlebih. Dia mengerang dalam nikmat, menggetarkan pantatnya di
seputar penisku saat aku mengosongkan persediaan benihku. Dia melemah
seiring dengan habisnya spermaku, dan kami akhirnya berhenti bergerak,
kecuali untuk mengambil nafas.
Takut Yoyok akan datang sebelum kami sempat melepaskan diri, aku
keluarkan diriku dari tubuhnya dengan bunyi plop yang basah, lalu mundur
menjauh dan mengenakan celanaku. Mirna masih tetap berbaring
tertelungkup di atas meja merasakan kehangatan campuran cairan birahi
kami, pantat telanjangnya masih tetap memanggilku. Aku lihat spermaku
dan cairannya mulai meleleh keluar dari bibir surganya. Aku palingkan
muka dan melihat Yoyok hampir sampai di pintu belakang, bayi di tangan
yang satu dan belanjaan di tangan lainnya.
Aku berbalik dan memohon pada Mirna. ” Ayolah!” kataku. “Kamu telah dapatkan keinginanmu. Dia hampir sampai kemari.”
Mirna bangkit, tatapan matanya masih kelihatan linglung. Dia bergerak
ke depanku, menjadikanku sebagai penghalang dari pandangan suaminya
saat dia dengan tergesa-gesa memakai celananya.
“Apa kalian sudah siap untuk pertandingannya?” tanya Yoyok sambil membuka pintu.
“Ya,” aku menjawab dari balik punggungku saat aku diam untuk menghalangi
Mirna yang menaikkan resletingnya. Setelah dia selesai, aku segera
berbalik untuk menyambut Yoyok.
“Ini,” katanya, menyodorkan bayinya padaku dan meletakkan belanjaannya diatas meja dapur.
“Urus ini, aku akan mengambil popok bayi.” Yoyok melangkah ke pintu
yang masih terbuka, dan aku menghampiri Mirna. Dia masih terlihat
sedikit linglung.
“Hampir saja,” kataku.
“Sini, biar aku yang menggendongnya.”
Aku berikan bayinya. Mirna memberiku pemandangan seraut wajah dari
seorang wanita yang puas sehabis bersetubuh, dan memberiku ciuman hangat
yang basah.
“Masih ada satu hal lagi yang harus kuketahui,”katanya.
“Apa itu?”
A?a,?A”Kalau aku ingin, bisakah aku mendapatkannya besok?”
Dan dia melenggang begitu saja tanpa menunggu jawabanku yang hanya melongo bengong. Dia yakin kalau akan bersedia…
Home »
» AKU DI PERKOSA SAMPAI PINGSAN


0 komentar:
Posting Komentar